Jumat, 01 Juni 2012
Pere-MPU-an
Kata perempuan biasanya dipasangkan dengan kata laki-laki menjadi laki-laki dan perempuan. Sedangkan kata lain yang sama maknanya adalah pria dan wanita. Jadi dianalogikan laki-laki sama dengan pria dan perempuan sama dengan wanita. Padahal sesungguhnya laki-laki tidak sama dengan pria, dan perempuan berbeda dari wanita. Seharusnya menyebutnya adalah ‘laki-laki dan wanita’.
Laki-laki artinya ‘dia yang mempunyai sifat lelaki’. Lelaki dalam bahasa Sangiang artinya ‘yang membuahi’. Jadi seorang laki-laki adalah dia yang punya kemampuan membuahi. Bagaimana dengan pria? Meskipun yang selama ini dimaksudkan makna pria sama dengan laki-laki, tetapi sebenarnya tetap saja berbeda. Seorang pria bisa saja merupakan jiwa wanita yang terperangkap dalam tubuh laki-laki (sulaya). Jika seorang laki-laki sungguh-sungguh laki-laki, lebih baik menyebutnya laki-laki daripada pria. Nyatanya jaman sekarang, saat kita menyebut istilah ‘pria metropolis’ biasanya merujuk pada laki-laki yang penampilannya kewanita-wanitaan (sulaya; wadam). Atau yang sifatnya seperti sifat wanita, lembut, senang berdandan dan sebagainya.
Begitu juga dengan wanita. Wanita berbeda dengan perempuan. Wanita adalah lawan lelaki. Wanita dari kata avani yang artinya ‘kandungan’. Jadi seorang wanita adalah seorang yang mampu memiliki kandungan. Sedangkan perempuan asal katanya dari ‘mpu’ yang berarti ‘orang yang mumpuni’ atau ‘orang yang mengetahui (kebijaksanaan)’. Jadi pere-mpu-an sebenarnya awalnya bukanlah merujuk pada manusia yang berjenis kelamin wanita, melainkan untuk menunjuk sekelompok orang yang mumpuni yang berjenis kelamin wanita. Karena mereka yang mumpuni tetapi laki-laki disebut dengan nama Rsi.
Jadi Rsi adalah sebutan untuk mereka yang mumpuni yang laki-laki, sedangkan Mpu untuk menyebut mereka yang mumpuni yang wanita. Jadi Pere-Mpu-an maksudnya untuk menunjuk sekelompok Mpu atau para Mpu.
Jaman dahulu para Mpu biasanya memiliki wilayah sendiri. Wilayahnya inilah yang disebut ‘Pere-Mpu-an’. Sayangnya istilah ini sekarang artinya jadi melenceng jauh sekali. Hingga 2000-an tahun terakhir ini bahkan di tanah Jawa istilah Mpu, panggilan Mpu, ini sudah banyak yang melekat pada laki-laki. Dan wilayah Pere-Mpu-an tidak dikenali lagi.
Ada beberapa penulis kemudian yang menyebut wilayah Pere-Mpu-an ini sebagai ‘kabikhuan’. Kenyataannya, yang dimaksud kabikhuan itu dipimpin seorang wanita yang sungguh mumpuni dan murid-muridnya juga wanita. Jika laki-laki maka dia sulaya, jadi gemulai juga seperti wanita. Dan murid-muridnya ini pasti juga sudah mencapai tingkat kemampuan yang cukup tinggi, karena jika tidak demikian wilayahnya tidak akan disebut kabikhuan atau pere-Mpu-an tadi.
Setelah mengetahui perbedaan wanita dan perempuan, laki-laki dan pria, ada baiknya jika kita menggunakan istilah yang lebih tepat yaitu laki-laki dan wanita. Menyebut dengan tepat sesuai sifatnya ini juga membantu alam kembali seimbang sesuai kondisi yang seharusnya. Jadi tidak banyak lagi para sulaya atau mereka yang jiwanya terperangkap dalam tubuh yang tidak cocok (jiwa laki-laki terperangkap dalam tubuh wanita, atau sebaliknya). Penyebutan yang tepat ini juga secara kolektif akan membantu manusia ingat kembali pada fungsi sesungguhnya dari dirinya sehingga bisa menghargai kemanusiaannya.
Om Prema
Kamis, 31 Mei 2012
PRAPHATTI
Praphatti berasal dari bahasa Sanskrit yang berarti ‘penyerahan diri total kepada Tuhan dalam bentuk bhakti’. Ada orang yang mengartikan praphatti sebagai penyerahan diri secara total kepada Tuhan saja. Tetapi yang benar adalah bahwa bentuk penyerahan diri itu; dalam bentuk bhakti. Praphatti ini dalam bahasa Sangiang dikenal sebagai Basarah.
Bhakti yang dimaksud di sini adalah sikap tunduk, patuh dan taat kepada kehendak Tuhan. Apapun yang terjadi pada dirinya diterima dengan penuh kesadaran sebagai kehendak Tuhan. Biasanya orang yang berbhakti ini selalu meyakini bahwa apapun yang terjadi pada mereka bagaimanapun buruknya kejadiannya, sebenarnya selalu untuk kebaikan mereka sendiri. Hanya saja mereka belum mampu menyadarinya, belum mampu melihat kebaikan itu pada saat kejadiannya terjadi.
Bhakti memang memiliki makna yang dapat meluas apabila kepatuhan dan ketaatan itu diterjemahkan ke dalam tindakan, ke dalam cara berpikir dan berkata-kata. Orang yang berbhakti akan melakukan segala sesuatunya sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan. Apapun yang dipikirkannya tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk keraguan kepada Tuhan. Juga selalu mengeluarkan kata-kata yang mencerminkan penyerahan dirinya kepada kehendak Tuhan.
Secara umum pelayanan apapun yang diberikan kepada sesama juga dapat dikatakan sebagai wujud berbhakti kepada Tuhan. Pelayanan kepada lingkungan alam sekitar juga wujud bhakti kepada Tuhan. Karena apapun yang ada di alam ini sesungguhnya adalah milik Tuhan. Adalah perwujudan kekuasaan Tuhan. Jadi melayani wujud-wujud itu juga berarti melayani Tuhan.
Nah, praphatti yang dimaksud adalah apabila segala ucapan, pikiran dan tindakan ini sepenuhnya mencerminkan kehendak Tuhan. Dan yang terutama, setelahnya si pelaku sama sekali tidak mengharapkan apa-apa dari apa yang dilakukannya. Sepenuhnya apapun yang dilakukan itu hanyalah wujud cinta kasihnya kepada Tuhan. Dia melakukan pelayanan tanpa pamrih. Dia mencintai Tuhan tanpa pamrih. Orang semacam inilah yang bisa disebut sebagai mereka yang melalui jalan praphatti.
Ya, praphatti adalah suatu jalan. Jalan untuk menuju Tuhan. Jalan yang paling mudah bagi kebanyakan orang. Karena ada saja orang-orang tertentu yang memiliki sifat dan karakter berbeda yang tidak bisa atau tidak nyaman mengikuti jalan ini. Untuk itu masih ada 3 jalan utama untuk menuju Tuhan bagi mereka. Yaitu Rajamarga, Jnanamarga, dan Karmamarga. Berturut-turut yaitu jalan bagi para mistikus, bagi mereka yang senang melakukan tapa brata dan meditasi. Kemudian jalan bagi para pemikir yang senang melakukan analisa, pencarian, penemuan dan yang senang melakukan diskusi. Kemudian yang ketiga jalan bagi para pekerja. Bagi mereka yang terobsesi dengan pekerjaan. Sepanjang ketiga tipe orang ini menyadari yang mereka lakukan dan melakukannya tanpa pamrih, maka ketiga cara ini juga dapat mengantar mereka pada pertemuan dengan Tuhan.
Tetapi hanya cara bhakti yang dapat memberikan pengalaman anubhava dengan mudah. Tentu saja para Raja Yogi juga mampu mencapai tahap anubhava. Tetapi mereka yang melalui jalan bhakti, akan lebih mudah mendapatkan pengalaman ini selama mereka bisa bersikap praphatti. Jalan manapun yang ditempuh, tanpa disertai sikap praphatti maka tetap saja tidak bisa sampai pada tujuan, yaitu Tuhan.
Inilah tentang praphatti. Atau ‘basarah’ dalam bahasa yang lebih kuno lagi. Praphatti atau basarah ini dapat mengantarkan pelakunya pada pengalaman anubhava atau penyatuan dengan Tuhan. Sehingga suara Tuhan dapat terdengar dengan jernih. Sruti. Kita sering mendengar istilah sruti. Kitab sruti adalah kitab yang ditulis para Rsi dari ‘pendengarannya’ atas kata-kata Tuhan. Pada beberapa orang tertentu, suara Tuhan ini malah dapat didengar sepanjang waktu. Diberkatilah dia yang mendapatkan hal ini. Tuhan sungguh mencintainya. Karena tidak banyak yang bisa mendapatkannya.
Om Jai
Bhakti yang dimaksud di sini adalah sikap tunduk, patuh dan taat kepada kehendak Tuhan. Apapun yang terjadi pada dirinya diterima dengan penuh kesadaran sebagai kehendak Tuhan. Biasanya orang yang berbhakti ini selalu meyakini bahwa apapun yang terjadi pada mereka bagaimanapun buruknya kejadiannya, sebenarnya selalu untuk kebaikan mereka sendiri. Hanya saja mereka belum mampu menyadarinya, belum mampu melihat kebaikan itu pada saat kejadiannya terjadi.
Bhakti memang memiliki makna yang dapat meluas apabila kepatuhan dan ketaatan itu diterjemahkan ke dalam tindakan, ke dalam cara berpikir dan berkata-kata. Orang yang berbhakti akan melakukan segala sesuatunya sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan. Apapun yang dipikirkannya tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk keraguan kepada Tuhan. Juga selalu mengeluarkan kata-kata yang mencerminkan penyerahan dirinya kepada kehendak Tuhan.
Secara umum pelayanan apapun yang diberikan kepada sesama juga dapat dikatakan sebagai wujud berbhakti kepada Tuhan. Pelayanan kepada lingkungan alam sekitar juga wujud bhakti kepada Tuhan. Karena apapun yang ada di alam ini sesungguhnya adalah milik Tuhan. Adalah perwujudan kekuasaan Tuhan. Jadi melayani wujud-wujud itu juga berarti melayani Tuhan.
Nah, praphatti yang dimaksud adalah apabila segala ucapan, pikiran dan tindakan ini sepenuhnya mencerminkan kehendak Tuhan. Dan yang terutama, setelahnya si pelaku sama sekali tidak mengharapkan apa-apa dari apa yang dilakukannya. Sepenuhnya apapun yang dilakukan itu hanyalah wujud cinta kasihnya kepada Tuhan. Dia melakukan pelayanan tanpa pamrih. Dia mencintai Tuhan tanpa pamrih. Orang semacam inilah yang bisa disebut sebagai mereka yang melalui jalan praphatti.
Ya, praphatti adalah suatu jalan. Jalan untuk menuju Tuhan. Jalan yang paling mudah bagi kebanyakan orang. Karena ada saja orang-orang tertentu yang memiliki sifat dan karakter berbeda yang tidak bisa atau tidak nyaman mengikuti jalan ini. Untuk itu masih ada 3 jalan utama untuk menuju Tuhan bagi mereka. Yaitu Rajamarga, Jnanamarga, dan Karmamarga. Berturut-turut yaitu jalan bagi para mistikus, bagi mereka yang senang melakukan tapa brata dan meditasi. Kemudian jalan bagi para pemikir yang senang melakukan analisa, pencarian, penemuan dan yang senang melakukan diskusi. Kemudian yang ketiga jalan bagi para pekerja. Bagi mereka yang terobsesi dengan pekerjaan. Sepanjang ketiga tipe orang ini menyadari yang mereka lakukan dan melakukannya tanpa pamrih, maka ketiga cara ini juga dapat mengantar mereka pada pertemuan dengan Tuhan.
Tetapi hanya cara bhakti yang dapat memberikan pengalaman anubhava dengan mudah. Tentu saja para Raja Yogi juga mampu mencapai tahap anubhava. Tetapi mereka yang melalui jalan bhakti, akan lebih mudah mendapatkan pengalaman ini selama mereka bisa bersikap praphatti. Jalan manapun yang ditempuh, tanpa disertai sikap praphatti maka tetap saja tidak bisa sampai pada tujuan, yaitu Tuhan.
Inilah tentang praphatti. Atau ‘basarah’ dalam bahasa yang lebih kuno lagi. Praphatti atau basarah ini dapat mengantarkan pelakunya pada pengalaman anubhava atau penyatuan dengan Tuhan. Sehingga suara Tuhan dapat terdengar dengan jernih. Sruti. Kita sering mendengar istilah sruti. Kitab sruti adalah kitab yang ditulis para Rsi dari ‘pendengarannya’ atas kata-kata Tuhan. Pada beberapa orang tertentu, suara Tuhan ini malah dapat didengar sepanjang waktu. Diberkatilah dia yang mendapatkan hal ini. Tuhan sungguh mencintainya. Karena tidak banyak yang bisa mendapatkannya.
Om Jai
Rabu, 30 Mei 2012
HOMAM
Homam berasal dari bahasa Sangiang atau yang lebih dikenal sebagai bahasa Sanskrit kuno yang artinya ‘api persembahan’. Homam adalah apa yang kemudian dikenal dalam tradisi yang lebih baru sebagai Agnihotra. Semula, yang dimaksudkan oleh yang memperkenalkan istilah agnihotra ini adalah; dia ingin menyampaikan bahwa agnihotra sama dengan homam. Sayangnya ada perbedaan yang sangat besar yang dia tidak pahami antara homam dengan agnihotra. Agnihotra secara asal kata (dan ini dalam bahasa Sanskrit) artinya ‘persembahan api’.
Bagi sebagian orang mungkin ‘api persembahan’ dengan ‘persembahan api’ sama saja. Padahal maknanya sungguh jauh berbeda. ‘Api persembahan’ artinya, melakukan persembahan (kepada Tuhan) dengan sarana api. Api menjadi media penghantar persembahan itu kepada yang dituju. Tetapi ‘persembahan api’ artinya melakukan persembahan untuk api (Agni Deva).
Dulu di daerah Timur Tengah, mereka melakukan ‘persembahan api’ ini sebagai praktek keagamaan yang umum pada waktu itu. Mereka inilah yang disebut kaum ‘majusi’ atau Zoroastrianisme. Pengikut Zarathustra atau Zoroaster. Meskipun banyak yang mengkaitkan mereka dengan praktik sihir atau magis (majus juga berasal dari kata magi, magis) sebenarnya mereka hanyalah kaum pagan yang menyembah Deva Agni. Persembahan yang mereka lakukan inilah yang sama dengan Agnihotra bila disebut dalam bahasa Sanskrit.
Di sinilah letak perbedaannya yang utama. Dalam homam, persembahan langsung ditujukan kepada Brahman, kepada Sang Pencipta. Bukan melalui Deva Agni. Jadi Homam adalah persembahan yang ditujukan kepada Tuhan secara langsung melalui sarana api. Sedangkan Agnihotra adalah persembahan dalam upacara pemujaan kepada Agni Deva.
Bukan berarti Agnihotra menjadi tidak benar. Karena deva manapun yang dipuja, sesungguhnya pemujaan itu akan berujung kepada Sang Pencipta juga. Hanya saja ibarat orang berjalan, yang melakukan agnihotra melewati persinggahan. Kadang-kadang jika tidak paham, persinggahan ini sudah dikira sebagai tujuan, lalu berhenti sampai di situ. Sedangkan yang melakukan homam, mereka langsung sampai pada tujuan tanpa singgah kemana-mana.
Ada banyak praktek keagamaan yang memang di masa sekarang ini tidak dikenal lagi dengan baik, atau pemahamannya sudah melenceng dari semula, semacam agnihotra ini. Sedangkan praktek yang tidak dikenali lagi dengan baik misalnya Yaga atau Asmavedha. Di jaman sekarang Yaga disamakan dengan yajna. Padahal jika ingin diartikan demikian maka Yaga adalah yajna utama, yajna besar yang meliputi serangkaian upacara yang tidak boleh terlewatkan sedikitpun. Yaga biasanya dilakukan oleh para pemimpin kelompok untuk kemakmuran dan kesejahteraan orang banyak. Begitu juga Asmavedha yang sering diterjemahkan begitu saja sebagai ‘persembahan kuda’. Tidak ada yang benar-benar tahu praktek Asmavedha seperti apa. Secara singkat bisa dikatakan Asmavedha adalah ‘persembahan yang dilakukan setelah sebelumnya menyatukan seluruh negeri, dengan maksud hasil persembahan itu ditujukan kepada seluruh negeri yang telah disatukan itu’ . Memang dalam menyatukan negeri-negeri menggunakan kuda untuk menjelajah wilayah, tetapi kuda itu tidak dikorbankan, melainkan mendapat berkah menjadi makhluk suci dan segera setelah upacara selesai mereka pindah ke alam deva. Manusia jaman sekarang memang agak sulit membayangkan kisah ini. Tetapi, inilah kisah yang sebenarnya.
Kembali pada homam. Homam ini adalah upacara yang bisa dilakukan secara sederhana tetapi bisa juga dilakukan untuk skala besar. Seyogyanya setiap kepala keluarga menyelenggarakan homam paling tidak sekali sehari. Beberapa guru berusaha mengambil inti sari dari homam dan mulai mengajarkan muridnya untuk menyalakan pelita sepanjang hari sebagai pengganti ‘api persembahan’ ini. Meskipun hal ini bisa diterima, tetapi sebenarnya melakukan homam lebih baik daripada menyalakan pelita saja. Karena saat melakukan homam, ada puja, ada persembahan dan ada berkah di sana. Diterima langsung pada saat itu juga. Menyalakan pelita ibarat permohonan yang dihanyutkan di atas perahu kertas di atas sungai. Jika beruntung, permohonannya terkabul, tetapi lebih banyak perahunya hancur basah kena air sebelum permohonannya sempat dipenuhi.
Tulisan ini hanya pengantar tentang homam. Mungkin informasi yang ditemukan disini berbeda dengan yang umumnya dijelaskan oleh orang banyak. Memang blog ini ‘berbeda’ :). Bagi mereka yang percaya, berkah dilimpahkan atas mereka. Bagi yang tidak percaya, sepanjang tidak menghina juga tidak apa-apa.
Sedangkan untuk mengetahui bagaimana praktek homam bisa membacanya langsung di homam.org atau di www.srividya.org misalnya. Paling tidak di dua website ini dijelaskan tata caranya dengan benar.
Om Jai
Selasa, 29 Mei 2012
TAKDIR
Takdir adalah kata yang paling sering disalahartikan oleh manusia. Takdir sebagaimana yang dipahami selama ini adalah garis hidup atau suratan nasib yang sebelumnya telah ditentukan oleh Tuhan sebelum kelahirannya. Sehingga ‘seolah-olah’ takdir’ itu sudah tidak bisa dirubah lagi karena merupakan ketetapan Tuhan. Bahkan ada yang memahami bahwa jiva sebelum lahir ke dunia telah menerima perjanjian tentang takdir ini dan (harus) menerimanya, barulah dia kemudian ‘boleh’ lahir ke dunia.
Akibat dari pemahaman tentang takdir semacam ini melahirkan dua arus utama pendapat yang berbeda. Pertama; adalah mereka yang meyakini definisi takdir di atas dan menerimanya sepenuh hati bahwa nasib setiap orang sudah dituliskan sebelum kelahirannya sehingga tidak bisa diubah-ubah lagi. Biasanya yang meyakini hal ini adalah mereka yang hidupnya bisa dibilang beruntung. Mereka hidup dalam kenyamanan. Akibat dari penerimaan pada pendapat ini adalah sikap orang-orang menjadi apatis dan tidak terlalu peduli pada hidup. Tidak ingin mencari tahu lebih jauh tentang apa itu hidup dan kehidupan. Mereka yang menerima pendapat ini karena kebetulan hidup mereka memang nyaman kemudian sering berlindung pada kalimat ‘atas kehendak Tuhan’ untuk apapun yang dilakukannya. Atau berlindung pada kalimat sakti, ‘nasib baik memang selalu mengiringi karena takdirnya memang begitu’.
Kedua; pendapat yang lain adalah pendapat yang biasanya diyakini oleh mereka yang hidupnya tidak beruntung. Karena kehidupan mereka sulit, mereka ini lantas mempertanyakan takdir. Kadang-kadang mereka menjadi mudah menyalahkan Tuhan atas nasib buruk yang menimpa mereka atau mereka kemudian menjadi benar-benar malas berusaha. Atau meskipun tetap berusaha tetapi hanya sekedarnya.
Ada lagi kelompok orang yang mulai melihat ada yang tidak benar dalam konsep takdir ini. Mereka kemudian menjadi kelompok mereka yang menolak konsep takdir. Mereka menganggap itu adalah kesalahan manusia atau ketidakpahaman manusia dalam menafsirkan kata takdir. Tetapi mereka ini biasanya juga jadi blunder sendiri. Sehingga nasihat yang diberikan adalah ‘kita wajib berusaha’ tetapi kalimat terakhirlah yang lebih penting karena yang paling menentukan, yaitu’ tetapi Tuhanlah yang menentukan’. Akibatnya, bagi mereka yang berpikir sedikit saja, pasti akan bingung. Jika semua adalah karena ketentuan Tuhan, untuk apa lagi berusaha?
Jadi, apakah takdir itu ada?
Takdir dengan pemahaman di atas tidak ada. Tetapi ada yang namanya ‘cetak biru’ setiap manusia. Setiap jiva yang lahir ke dunia ini memiliki cetak biru masing-masing. Cetak biru ini memuat segala ingatan dalam kehidupan sebelumnya termasuk hutang piutang karma (tindakan) yang harus diselesaikannya. Berdasarkan hutang piutang karma inilah bayangan kehidupan pada kelahirannya sekarang terlihat. Hanya bayangan. Bisa terjadi bisa juga tidak. Tetapi ibarat jalan, sudah ada patok-patok di sepanjang jalan yang seharusnya dilalui jika menengok hutang piutang karmanya.
Tetapi bagaimana kehidupan sang jiva itu setelah benar-benar lahir ke dunia tergantung dari jiva itu sendiri. Apabila dia relatif tidak melakukan apa-apa, tidak berusaha mencari tahu siapa dirinya dan apa tujuannya lahir ke dunia, maka bisa dikatakan bahwa bayangan yang terlihat pada cetak biru itu akan benar-benar terjadi. Tetapi jika sang jiva ini dalam kehidupannya kali ini melakukan upaya pengenalan pada dirinya sendiri, berusaha mencari tahu makna hidupnya kali ini, maka bayangan tadi bisa berubah. Apalagi bila sang jiva dalam kehidupan ini mendapat berkah, atau dia melakukan penebusan karma, maka bayangan kehidupannya bisa berubah dalam derajat yang cukup besar.
Jika sang jiva benar-benar beruntung, dalam arti dia melakukan upaya yang sungguh-sungguh mencari tahu tujuan hidupnya kali ini, kemudian dia mendapat berkah yang luar biasa karena pengabdiannya yang penuh kerendahan hati kepada Tuhan, ditambah dengan hutang piutang karmanya yang cukup baik, maka bisa jadi apa yang tertulis di cetak biru hidupnya menjadi tidak berarti. Cetak birunya akan berubah 180 derajat. Bahkan bisa saja dia tidak punya cetak biru lagi karena dia tidak perlu mati, dia hanya perlu meninggalkan dunia ini. Dia tidak seda—mati--, tetapi suya—meninggalkan dunia--.
Dahulu istilah suya masih dikenal karena masih ada orang-orang yang memang hanya meninggalkan dunia ini. Jaman sekarang sudah jarang sekali terjadi. Tetapi bukannya tidak ada. Masih ada, satu dua orang yang suya. Tetapi biasanya mereka hanya orang biasa. Bukan para raja seperti yang hampir selalu terjadi pada jaman dahulu. Tetapi kisah ini, kisah mereka yang hanya meninggalkan dunia dan bukan mati, sebenarnya masih terjadi sampai sekarang.
Kesimpulannya, takdir seperti yang dimaksud dalam awal tulisan ini tidak ada. Yang ada adalah cetak biru, yang memuat bayangan akan kehidupan seseorang berdasarkan hutang piutang karmanya.
Semoga, dengan memahami ini kita bisa mengubah bayangan cetak biru kita sekarang menjadi lebih baik sekaligus menabung kebaikan untuk cetak biru kita selanjutnya. Akan lebih baik lagi kalau kita cukup beruntung mendapat berkah sehingga tidak perlu memiliki cetak biru lagi.
Om Jai Gurudev
Senin, 28 Mei 2012
KUNDALINI SHAKTI (PART 2)
Melanjutkan tulisan sebelumnnya...
Biasanya kundalini shakti ini kemudian dikaitkan dengan cakra-cakra utama dalam tubuh manusia. Yang dimaksud cakra dalam tubuh manusia sebenarnya adalah kumparan energi yang besar. Kumparan itu bentuknya melingkar berlapis-lapis, karena itu kemudian disebut cakra. Sebenarnya ada banyak cakra dalam tubuh manusia, di banyak titik. Tetapi yang utama ada 7 buah di sepanjang garis tengah tubuh manusia. Karena 7 ini adalah yang utama, yang paling besar, yang 7 ini juga yang paling dikenal oleh manusia. Jadi setiap orang menyebut cakra, maka biasanya yang dimaksud adalah 7 cakra utama ini.
Masing-masing cakra itu secara urut dari bawah ke atas adalah muladhara cakra, svadistana cakra, manipura cakra, anahata cakra, visuddha cakra, ajna cakra, dan sahasrara cakra. Masing-masing cakra ini mempengaruhi bidang tertentu dalam hidup manusia yang dapat dilihat pula dari posisinya. Misalnya muladhara cakra tempatnya persis di tengah raga, sedikit di atas perineum. Mereka yang sumbat di cakra ini akan menunjukkan sifat luaran selalu tertarik dengan seks, tidak percaya diri, tidak membumi. Atau mereka yang energinya sumbat di anahata cakra akan memiliki hati yang keras, tidak mengenal Kasih. Masing-masing cakra ini dapat direlasikan dengan sifat yang ditunjukkan manusia dalam hidupnya sehari-hari.
Berkaitan dengan kundalini shakti, maka cakra-cakra ini seperti terminal saat kundalini shakti itu bangkit. Jadi kebangkitan kundalini shakti mulai di muladhara cakra, kemudian menuju ke cakra kedua yaitu svadistana cakra. Di sini dia akan ikut berputar sesuai kumparan cakra, baru melanjutkan ke cakra berikutnya apabila kumparan energi pada cakra ini lancar. Jika tidak, kundalini shakti-nya akan berhenti di situ. Hanya bolak-balik dari muladhara ke svadistana. Itulah kemudian yang dikatakan sebagai cakranya tersumbat. Lantas orang secara asal saja mengatakan kundalininya belum bangkit.
Jadi ada 2 hal yang harus dilakukan untuk benar-benar dapat mengatakan kundalini shakti sudah dibangunkan. Pertama membangkitkan kundalini shakti-nya sendiri. Kedua, memastikan cakra-cakra sebagai terminal-terminal yang akan dilewati kundalini shakti tidak tersumbat.
Tetapi seperti telah dijelaskan sebelumnya, cakra-cakra inipun bisa dibuat tidak tersumbat tanpa melakukan latihan tertentu. Cukup hidup secara baik, benar dan seimbang. Artinya jika di dalam hidup sehari-hari seseorang tidak dikuasai oleh nafsu (seks), bisa mengendalikan diri, rendah hati, percaya diri, penuh kasih, dan secara umum hidup seimbang, tidak iri, tidak memiliki keinginan di luar batas kemampuannya, maka cakra-cakra atau kumparan-kumparan energi di dalam dirinya akan mengalir lancar. Tanpa latihan tertentu, kundalini shakti seseorang bisa bangkit dan mengalir lancar ke seluruh tubuh hanya dengan cara hidup baik, benar dan seimbang. Tapi tentu saja cara ini sulit sekali, apalagi di tengah kondisi jaman sekarang. Tetapi yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa kundalini shakti itu sebenarnya tidak rumit-rumit amat. Kundalini shakti bukanlah suatu hal misterius ataupun hal sulit yang perlu diupayakan dengan susah payah. Tidak demikian.
Memang, bagi mereka yang mempelajari spiritualitas secara mendalam, dengan bangkitnya kundalini shakti akan terlihat ‘sakti’ atau mumpuni atau waskita. Apapun sebutannya. Tapi bagi mereka orang biasapun, apabila kundalini shakti-nya bangkit mereka tetap akan tampil sebagai orang yang bersahaja dan bijaksana. Kesaktian atau kewaskitaan murni berurusan dengan besarnya energi yang dimiliki seseorang yang berhubungan erat dengan ilmu kanuragan. Tetapi tanpa itupun, mereka yang kundalini shakti-nya bangkit akan tetap mampu meraih kebijaksanaan. Justru bila tidak hati-hati, mereka yang memiliki energi besar tanpa olah spiritual lainnya, maka kundalini shakti yang bangkit itu tidak akan melahirkan kebijaksanaan, tetapi sekedar kesaktian saja. Sayang sekali jika demikian yang terjadi. Tetapi di dunia ini yang terakhir inilah memang yang lebih banyak terjadi.
Itulah sekelumit tentang Kundalini Shakti. Hanya sekilas uraian dari sudut yang berbeda dari yang biasa diulas orang. Semoga bermanfaat.
Om Jai Gurudev
Label:
cakra,
kanuragan,
kebijaksanaan,
kundalini shakti
Minggu, 27 Mei 2012
KUNDALINI SHAKTI (PART 1)
Kundalini Shakti atau energi Kundalini adalah energi yang tersimpan dan biasanya dalam keadaan dormant pada setiap manusia. Kundalini dalam bahasa Sangiang artinya ‘ular tidur’. Dikatakan demikian karena bagi yang bisa melihatnya energi yang dormant ini bentuknya memang melingkar seperti ular yang tidur. Begitupun saat dia bisa dibangkitkan atau digerakkan, gerakannya seperti ular yang baru bangun dari tidurnya, tegak menuju bagian atas tubuh manusia sebelum menyebar perlahan ke seluruh tubuh melalui jutaan syaraf halus di seluruh tubuh.
Kundalini Shakti ini terletak di dasar powerhouse, daerah segi empat di perut. Sulit untuk menggambarkan posisi tepatnya, karena kundalini shakti ini sebenarnya ada di raga (etheric body). Tapi bisa dikatakan posisinya sekitar 10 cm tepat di atas perineum (daerah antara kelamin dan anus). Powerhouse yang kuat diperlukan apabila seseorang ingin mengaktifkan kundalini shakti ini. Karena untuk ‘membangunkan’ kundalini tadi diperlukan kesiapan seluruh lapisan diri, berupa lapisan mental, emosional, spiritual, juga lapisan paling luar yaitu fisik. Fisik yang lemah, tidak akan bisa membangkitkan kundalini. Karena itu, umum sekali bagi mereka yang mulai menggali spiritualitas, memulai segala sesuatunya dari pelajaran Kanuragan. Olah tubuh. Maksudnya agar tubuh fisik ini kuat untuk menampung semua energi yang akan bangun atau dibangunkan.
Daerah powerhouse ini sendiri punya istilah khusus, yaitu sumbaga. Kesehatan dan kekuatan seseorang sebenarnya tergantung dari sumbaga-nya. Berbeda dengan powerhouse, yang hanya menunjukkan daerah segi empat dari bawah tulang dada hingga pangkal paha, sumbaga tidak hanya merujuk pada tubuh fisik, tetapi juga pada raga. Jadi sumbaga adalah daerah segi empat pada area perut baik di tubuh fisik maupun di tubuh raga (etheric body).
Secara fisik, latihan untuk mengencangkan lapisan otot-otot perut sudah cukup untuk memperkuat daerah powerhouse. Tetapi sumbaga memerlukan latihan lain yaitu berupa pranayama. Pranayama yang benar (terutama pernapasan perut dan pernapasan sempurna) sudah cukup untuk memperkuat sumbaga. Pranayama ini memang ditujukan untuk memperkuat sumbaga pada tubuh raga. Jadi olah fisik (biasanya berupa latihan kanuragan, atau sekedar olah raga untuk memperkuat otot perut) untuk tubuh fisik, dan pranayama untuk tubuh raga. Hasilnya, sumbaga akan kuat. Olah fisik digabung dengan pranayama itulah yang kemudian menjadi ilmu kanuragan. Thus, ilmu kanuragan sesungguhnya bertujuan untuk memperkuat sumbaga, wadah dari kundalini shakti.
Karena itu, biasanya setelah tuntas mempelajari kanuragan barulah orang menginjak pada kasepuhan. Orang mulai menggali spiritualitas lebih dalam. Kundalini shaktinya mulai dibangkitkan.
Sebenarnya pada saat sumbaga sedang diperkuat (dengan ilmu kanuragan), latihan untuk mengolah mental, emosional dan spiritual tidak boleh ditinggalkan. Sehingga saat sumbaga siap, kundalini sudah siap pula untuk bangkit. Pada beberapa orang yang berlatih dengan tulus, tanpa mengharap tujuan tertentu yang sebenarnya tidak berarti (--seperti ingin menjadi orang yang sakti atau digdaya misalnya--), maka kundalini shaktinya bisa bangkit sendiri setelah sumbaganya siap.
Kundalini shakti bisa dibangkitkan lewat upaya dari diri sendiri semacam ini, bisa juga dengan cara cepat melalui shaktipat oleh seorang guru.
Shaktipat adalah pembangkitan energi dengan pemberian trigger atau pemicu. Semacam menyalakan tungku dengan korek api. Menyalakan tungku bisa juga dengan menggesek dua permukaan kayu dengan kuat hingga muncul api. Cara itu bisa berhasil tapi membutuhkan waktu yang lama dan usaha yang keras. Tapi hasilnya bila kayu itu sudah terbakar, pasti akan terbakar. Menyalakan dengan korek api, bisa berhasil, bisa juga tidak. Atau perlu usaha keras berulang-ulang untuk menyalakannya, seandainya kayunya basah, misalnya.
Kundalini Shakti bisa juga bangkit atas berkah yang diterima. Tentu saja, yang terakhir ini adalah yang paling sulit diraih, meskipun ada saja orang yang beruntung mendapatkannya. Yang umum terjadi adalah pembangkitan melalui cara pemberian shaktipat dari guru ke murid atau dari orang yang sudah bangkit kundalini shaktinya kepada yang belum (bangkit). Karena ini adalah cara yang paling mudah. Tetapi seperti segala hal mudah lainnya, cara ini hasilnya tidak permanen. Tanpa upaya memelihara, kundalini yang sudah bangkit bisa tidur lagi.
Tetap saja yang permanen adalah apabila kundalini shakti bangkit atas usaha sendiri. Cara shaktipat ataupun pemberian berkah hanya akan bermanfaat bila si orang yang mendapatkan itu terus mengolah diri. Ini hanyalah cara start yang lebih mudah. Selebihnya semua tergantung pada masing-masing orang, apakah dia disiplin dengan latihannya atau tidak.
Yang pasti, orang yang kundalininya bangkit biasanya adalah orang yang seimbang, mengenali dirinya sendiri dan bijaksana. Karena kebijaksanaan hanyalah hasil dari pemahaman pada diri sendiri dan hasil dari menjalankan hidup secara seimbang. Jadi untuk mengetahui apakah seseorang kundalini-nya sudah bangkit atau belum mudah sekali. Apakah dia bijak? Jika ya, artinya meskipun dia tidak tahu menahu tentang istilah kundalini, sesungguhnya dia sudah menggunakan kundalini shaktinya dengan baik.
Tentang kundalini shakti selanjutnya, akan diteruskan pada bagian kedua.
Sabtu, 26 Mei 2012
PRANAYAMA
Pranayama dalam bahasa Sangiang, atau yang lebih dikenal orang sebagai bahasa Sanskrit kuno artinya ‘aliran prana’. Jadi latihan pranayama artinya adalah latihan yang berguna untuk mengalirkan prana dengan benar dan mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari latihan itu. Tetapi sayangnya jaman sekarang pranayama sering diterjemahkan begitu saja sebagai ‘latihan pernapasan’. Penterjemahan ini tidak salah, tetapi juga tidak menjelaskan dengan tepat.
Ada beberapa macam latihan pranayama yang dikenal manusia. Ada yang umum sekali, seperti pernapasan perut atau pernapasan sempurna. Ada yang untuk tujuan tertentu yang tidak terlalu khusus seperti pernapasan lebah, pernapasan kelinci, sitali, atau sitkari. Tapi ada juga beberapa latihan pranayama yang didesain khusus untuk tujuan tertentu yang khusus pula. Misalnya untuk memperluas wadah penampungan energi di tubuh. Atau untuk menaikkan suhu tubuh secara permanen (sehingga tidak pernah kedinginan, misalnya untuk mereka yang tinggal di tempat yang tinggi seperti Himalaya, Tibet). Tetapi pranayama dengan tujuan tertentu yang khusus ini harus dilakukan atas petunjuk dan bimbingan seorang Guru.
Di sini akan diuraikan sekilas tentang beberapa jenis latihan pranayama ini.
1. Pernapasan perut.
Pernapasan perut adalah pernapasan alami manusia. Karena alami, pernapasan ini memiliki manfaat besar dalam menjaga kesehatan dan kelancaran fungsi seluruh organ tubuh. Cara bernapasnya mudah; tarik napas perut kembung, buang napas perut kempes. Alami sekali, seperti bayi bernapas. Sayangnya, setelah kita dewasa, biasanya kita malah sering lupa untuk bernapas dengan pernapasan perut. Kita lebih sering menggunakan pernapasan dada (tarik napas dada mengembang, buang napas dada turun), yang sebenarnya dalam jangka panjang akan mengganggu kerja organ dalam tubuh manusia terutama fungsi kelenjar dan syaraf.
Sayangnya banyak yang tidak memahami hal ini, bahkan oleh para ahli olah raga maupun ahli kesehatan. Sehingga saat olah raga justru kita sering sekali menggunakan pernapasan dada. Sebenarnya jika suatu olah raga memaksa kita untuk menggunakan pernapasan dada, artinya sebenarnya olah raga itu secara jangka panjang tidak menyehatkan, dan justru akan mengganggu kerja kelenjar dan syaraf kita.
2. Pernapasan sempurna
Pernapasan sempurna caranya adalah tarik napas perut kembung, lalu napas dibawa ke dada, dada mengembang, turun lagi bawa napas ke perut, perut kembung lagi, baru buang napas perut kempes. Banyak juga yang salah urutan pada pernapasan sempurna ini. Jika salah urutan melakukannya, manfaat ‘kesempurnaan’nya jadi hilang.
Disebut ‘sempurna' adalah karena napas macam ini memberikan kesehatan secara menyeluruh pada tubuh kita. Artinya bila napas perut menjaga kesehatan, maka napas sempurna memiliki manfaat penyembuhan. Jadi jika ada organ kita yang tidak berfungsi baik, maka dengan melakukan latihan pernapasan sempurna ini, fungsi organ itu dapat kembali normal.
Pada beberapa yogasana atau beberapa latihan kanuragan, ada gerakan atau sikap tubuh yang mengharuskan untuk dilakukan dengan pernapasan sempurna. Dalam hal itu, pernapasan sempurna diperlukan untuk mengaktifkan organ tertentu yang dituju baik dengan sikap tubuh gerakan maupun dengan pernapasan itu sendiri.
3. Pernapasan lebah
Seperti namanya, pernapasan lebah ini membuat kita yang melakukannya mendengung seperti suara lebah. Caranya adalah dengan menarik napas, perut kembung, kemudian buang napas sambil bergumam “mmmmm………”, mulut rapat, mata terpejam dalam sikap rileks. Tidak boleh konsentrasi. Lebih baik bila dilakukan dengan sikap duduk padmasana dan kedua tangan di depan perut dalam mudra pilaya. Yaitu telapak tangan kiri disusun di atas telapak tangan kanan, kedua ibu jari bertemu (lihat gambar).
Pernapasan ini menyeimbangkan dan menyehatkan organ-organ dalam dari dada sampai kepala. Jadi bagi yang sering sakit kepala, atau menderita hipertensi maupun hipotensi, bagus sekaliapabila melakukan latihan ini. Bagi yang memahami dengan baik dan dilakukan di bawah bimbingan Guru, maka pernapasan ini bisa juga digunakan untuk keperluan menyimpan energi dalam jumlah besar.
4. Pernapasan kelinci
Sama seperti pernapasan lebah, pernapasan kelinci juga meniru cara kelinci bernapas. Jadi; ambil napas perut kembung, kemudian keluarkan napas sedikit-sedikit lewat mulut seperti orang terengah-engah sambil ujung lidah dikeluarkan sedikit dari mulut. Posisi duduk juga sebaiknya dalam sikap padmasana, sedangkan tangan sebaiknya diletakkan di atas kedua lutut.
Pernapasan ini baik sekali untuk menyehatkan organ pernapasan, pencernaan dan sekresi. Berbeda dengan pernapasan lebah yang juga mempunyai manfaat spiritual, pernapasan kelinci manfaatnya hanya untuk kesehatan saja.
5. Sitali
Sitali dalam bahasa Sangiang artinya 'dingin'. Jadi maksudnya dengan melakukan pernapasan ini seseorang akan merasa tubuhnya menjadi dingin. Jaman dahulu orang mengenal bermacam jenis pernapasan ini untuk membantu menyesuaikan tubuh dengan kondisi alam. Misalnya jika cuaca sedang panas sekali, maka pernapasan sitali akan dapat membantu mendinginkan tubuh tanpa perlu kipas angin atau AC seperti orang jaman sekarang.
Cara melakukannya adalah dengan melipat lidah ke tengah. Tarik napas melalui hidung, dan buang dengan melewatkan udara di lidah yang dilipat tadi (lihat gambar).
Seandainya penarikan naps dibalik, artinya menarik napas lewat mulut melalui lipatan lidah, kemudian dihembuskan lembut lewat hidung, maka manfaatnya adalah untuk memperbaiki saluran pencernaan. Kedua cara penarikan napas benar sesuai tujuannya masing-masing.
6. Sitkari
Sitkari dalam bahasa Sangiang artinya panas. Ini adalah latihan pasangan dari sitali. Jadi kalau sitali mendinginkan tubuh, sitkari manfaatnya untuk menghangatkan tubuh. Kedua macam pernapasan ini terutama diambil manfaatnya untuk mengahangatkan dan mendinginkan tubuh selain tentu saja melancarkan jalan pernapasan.
Cara melakukannya adalah dengan menarik napas melalui hidung, kemudian membuang napas lewat mulut dengan menjulurkan lidah sedikit sampai napas habis. Begitu dilakukan berulang-ulang (lihat gambar)
Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa pada sitkari, mengeluarkan napasnya melalui gigi-gigi, sehingga dikatakan 'napas dibuang dengan mendesis lewat gigi (teeth hissing)'. Sebenarnya tidak demikian. Memang hasilnya sama-sama seperti mendesis, tetapi yang benar pada sitkari desis dihasilkan dari udara yang melewati celah antara lidah dan gigi atas, bukan antara gigi bawah dan gigi atas.
Meskipun tidak dijelaskan secara khusus menarik napas selalu melalui hidung. Membuang napas selalu lembut, kecuali jika disebutkan harus dihembus dengan keras. Dan untuk setiap penarikan napas, selalu perut kembung. Napas, pertama kali harus disimpan di perut sebelum digunakan atau diolah dengan berbagai cara.
Demikian sekilas tentang beberapa jenis pernapasan. Jika latihan pernapasan di atas ingin dilakukan sebagai latihan yang berdiri sendiri, maka paling tidak latihan dilakukan selama 10 menit. Boleh lebih, tetapi minimal 10 menit. Lebih baik apabila sebelumnya berlatih yogasana dan ditutup dengan meditasi.
Dan semoga tulisan ringkas tentang pranayama ini dapat bermanfaat.
Om Jai
Label:
napas kelinci,
napas lebah,
napas perut,
napas sempurna,
pranayama,
sitali,
sitkari
Langganan:
Entri (Atom)









